2.Tiga (3 Jenis Trend)
Dow dengan rinci membedakan pergerakan
pasar secara keseluruhan. Menurut dow
pergerakan market trend terdiri dari 3 jenis. Dow menganalisa keseluruhan
aspek harga untuk mengidentifikasi trend.
Pada dasarnya tren adalah pergerakan
rally satu arah dalam sebuah instrument. Mari kita lihat gambar di bawah ini
Trend secara visual mudah dilihat
hanya dengan lirikan mata dari arah kiri ke kanan dengan fokus harga sedang bergerak naik
dalam chart di atas. Namun coba perhatikan garis merah yang akan saya sebut low
price dan garis biru yang akan saya sebut dengan high price. Dalam sebuah
trend, biasanya terdapat low price yang menaik dan high price yang semakin
tinggi dalam trend naik. Jika trend pasar sedang menurun makan akan berlaku
kebalikannya.
Baik mari kita lanjutkan pada teori
dow. Dow memecah trend dalam 3 jenis.
1.Trend major
Dow
menyatakan trend major merupakan aspek paling penting untuk mengambil keputusan
berdasarkan trend. Karena trend major
adalah faktor penting yang mempengaruhi 2 jenis trend lainnya. Menurut tulisan
dow, trend major biasanya berlangsung dari 1 tahun sampai 3 tahun. Namun
sayangnya saat ini trend major terkadang tidak terjadi dalam waktu selama yang
dituliskan dow pada jamannya
Dari chart
di atas kita melihat trend primer sedang bergerak naik. Dow tidak memperhatikan
berapa panjang sebuah trend. trend akan tetap berlangsung sampai ada sinyal
pembalikan arah yang kuat. Yang biasanya ditandai dengan low price yang menurun
(seperti pada harga di kanan bawah.
Tujuan dow
mengidentifikasi trend adalah mengikuti pergerakan trend. Bukannya untuk
melawan trend yang sedang berlangsung kecuali sudah terjadi konfirmasi
pembalikan arah yang kuat.
2.Trend
sekunder (trend medium)
Dalam teori
dow, jika trend primer adalah arah utama pergerakan pasar, maka trend sekunder
adalah koreksi-koreksi yang harga bergerak melawan trend primer tersebut. Trend
sekunder lah yang membentuk low price untuk trend menaik. Dan high price untuk
trend menurun.
Dari chart di
atas kita dapat melihat garis biru yang ditarik dari harga high sampai pada low
price pada setiap koreksi. Garis biru tersebutlah yang dimaksud dengan trend
sekunder. jika anda
perhatikan saat sedang berlangsung, trend sekunder terkadang memiliki
volatilitas yang lebih tinggi dibanding trend primer.
3.Trend minor
Jenis terakhir dalam trend adalah trend minor
yang biasanya bergerak tidak lebih dari 3 minggu (trader saat ini sering
menggunakan chart daily untuk melihat trend minor). Trend minor merupakan detil
pergerakan trend sekunder (medium) yang kita lihat sebelumnya. Jika trend
sekuder merupakan koreksi dari pergerakan trend primer. Maka trend minor adalah
koreksi dari pergerakan harga trend sekunder. berarti pergerakan harga trend
minor sama dengan trend primer dan berlawanan dengan pergerakan harga trend sekunder.
Chart diatas terlihat garis biru yang
merupakan trend sekunder dan garis berwarna jingga yang merupakan trend minor.
Trend minor sangat jarang digunakan oleh para
pengikut dow karena pengikut dow adalah investor dalam jangka panjang. Maka
mereka hanya memperhatikan trend primer dan trend sekunder. namun jika anda
adalah short term trader, mungkin trend minor akan memberikan anda pandangan
baru dalam melakukan transaksi.
Namun disarankan oleh dow tetap fokus pada
trend besar, karena jika kita terlalu fokus pada trend minor, maka kita akan
melupakan gambaran besar sebuah trend.
Menurut dow semakin panjang periode sebuah
trend, semakin penting pula trend tersebut.
Dengan mengetahui 3 Jenis Trend anda akan lebih paham sekarang mengapa terkadang anda mendengar seorang analis market mengatakan trend sedang naik dan yang satunya menyatakan trend sedang bergerak turun. Itu semua tergantung dari mereka mengambil acuan trend mayor, trend sekunder, atau trend minor.
3. Tiga (3) Fase dalam Trend.
Dow
menyatakan trend primer sangat penting untuk dipahami, untuk itu dow merincikan
sebuah trend primer terdiri dari 3 fase. Awal dari trend primer disebut fase
akumulasi kemudian di ikuti fase partisipasi dan terakhir disebut dengan fase
panik atau ekses. Dow merincikan trend primer supaya para investor tidak
terjebak pada akhir trend yang dapat membuat anda kehilangan margin yang cukup
besar. Mari kita lihat contoh di bawah ini.
Fase
akumulasi
Trend
awal yang selalu dimulai dengan fase akumulasi yang dimana adalah start dari
sebuah trend. Fase muncul setelah terjadi trend menurun ataupun sideway. Dan
menurut history data, fase ini muncul setelah data-data mengkonfirmasi
pergerakan high yang menaik secara perlahan ini. terkadang kita sebagai trader
retail kurang peka terhadap fase ini, karena keterbatasan informasi yang
dimiliki oleh para trader professional. Namun jika anda lebih teliti mungkin
anda dapat terlibat dalam fase ini.
Fase
partisipasi
Fase
partisipasi merupakan inti dari trend primer, karena fase ini adalah fase
terpanjang dari sebuah trend primer. Bukan Cuma dari segi waktu, namun juga
volumenya sangat panjang dari fase-fase lainnya. Biasanya data-data ekonomi
sudah mengkonfirmasi untuk selaras dengan trend seperti chart di atas. Para
trader teknikal pengikut dow akan bersama-sama mengambil posisi follow trend
pada fase ini.
Fase
panic / ekses
Ini
merupakan fase terakhir yang dinyatakan dow setelah pasar bergerak kuat (fase
partisipasi). Fase panic atau fase ekses (sisa) merupakan tempat dimana para
investor pintar akan mulai menutup posisi follow trend sebelumnya dan menjual
kepada yang investor panic yang baru akan mulai masuk pasar. Pada posisi ini
ditandai dengan antusiasme yang berlebihan dengan melihat pergerakan kuat yang
terjadi pada instrument tersebut. Di fase ini akan banyak investor yang “telat”
mengikuti pergerakan pasar merasakan pahitnya tertinggal oleh trend. Karena dow
menyatakan inilah fase terakhir dari sebuah trend primer.
Biasanya
para trader mengatakan inilah buy di puncak harga atau sell di lembah. Seperti
itulah kira-kira karena kepanikan terhadap sebuah trend tanpa melihat fase-fase
ini bisa membuat anda terlihat seperti orang bodoh yang melakukan spekulasi
tanpa perhitungan jelas.
Pada
fase ini pula, perhatian yang lebih seharusnya tertuju kepada tanda-tanda pada
pelemahan tren, seperti menguatnya tekanan harga ke bawah, melemahnya kekuatan
untuk naik, dsb. Tanda seperti ini bisa menjadi pertanda mulai berakhirnya tren
naik primer dan mulai dekatnya kepada tren primer turun
4.Indeks Bursa harus saling konfirmasi.
Dow membuat indeks yang dimana beliau percaya bahwa korelasi
sektor industry dan transportasi sangat berkaitan erat dengan perkembangan
ekonomi. Menurut dow, jika kedua indeks tersebut bergerak dalam trend yang
sama, maka itu adalah konfirmasi awal untuk pergerakan trend dalam pasar saham.
Namun sinyal awal ini tidaklah berlaku jika hanya salah satu yang
mengkonfirmasi. Dow menyatakan bahwa konfirmasi keduanya lebih dapat dipercaya
dibandingkan hanya salah satu indeks yang mengkonfirmasi.
5. Trend dikonfimasi oleh Volume
Dow menyebutkan bahwa volume merupakan faktor yang memberikan informasi terhadap momentum. Sebuah trend bullish maupun bearish haruslah selaras dengan besarnya volume. Jika dalam trend momentumnya besar, maka trend tersebut terkonfirmasi akan terus berkelanjutan. Momentum para investor dan pelaku pasar pada pasar masih sangat menunjukkan antusias mereka pada instrumen tersebut.
Namun sebaliknya jika trend sedang bergerak kuat dan volume sedang melemah, itu menunjukkan adanya tanda-tanda pelemahan trend. Potensi trend akan terus berlanjut menjadi lemah karena trend tidak berjalan selaras dengan volume.
6. Trend terus berlaku hingga ada sinyal jelas akan terjadinya pembalikan arah
Dow adalah seorang yang percaya pada trend. Sederhanannya dalam prinsip yang keenam ini adalah dow menyarankan untuk mengikuti trend sampai habis. Trend tetap berlaku hingga terjadinya sinyal-sinyal jelas yang menunjukkan arah trend sudah berubah. Jadi jika tidak ada kevalidan konfirmasi pembalikan arah, trend akan tetap berlanjut. sebaliknya jika sinyal pembalikan arah sudah terkonfirmasi, maka trend sudah berubah haluan.
Aplikasi Teori Dow
Kita harus memahami bahwa Dow memberikan informasi prinsip ini berdasarkan riset yang dilakukannya pada pasar saham. Sehingga relevansi dalam penggunaan teori dow pada trading forex akan sedikit berbeda. Kebanyakan para trader forex akan menggunakan prinsip trend dan mengabaikan indeks pasar. Namun ada beberapa yang tetap menggunakan semua prinsip tersebut dalam trading forex.
Pengaplikasian Teori Dow disederhanakan dengan penggunaan trend. mari kita lihat contoh di bawah ini.
Para penganut teori dow akan fokus pada trend.
Dalam mengaplikasikan teori dow dalam trading, seorang trader harus fokus pada ciri-ciri trend. Seperti contoh gambar diatas, bentuk trend pada umumnya adalah seperti susunan tangga. Namun fokusnya ada pada harga high (puncak) yang di lihat pada huruf B dan D. dan dengan fokus pada low price (lembah) yang diwakili dengan huruf C dan E. lihatlah High D lebih tinggi dari High B, dan Low E lebih tinggi daripada Low C. inilah tanda sebuah trend naik.
Sebaliknya untuk trend Down trader tetap fokus pada puncak dan lembah, namun trend down diwakili dengan puncak dan lembah yang terus menurun seperti gambar di bawah ini
Pertanyaannya adalah, bagaimana seorang trader mengaplikasikan teori dow dalam transaksi?
Setelah menemukan trend up atau trend down, para penganut teori dow akan menggunakan harga puncak sebagai batas pengambilan keputusan transaksi buy. Mereka akan masuk ke dalam pasar saat terjadi breakout (penembusan harga). seperti contoh dibawah ini
Sebaliknya dalam Trend Down, mereka akan fokus pada level harga lembah sebagai acuan breakout dalam pengambilan keputusan.
Selain itu seperti yang ada pada prinsi keenam, konfirmasi pembalikan arah trend ditunjukan dengan susunan yang puncak dan lembahnya membentuk harga yang lebih rendah pada trend up.